Ada Apa dengan The Apple of My Eye (1)

Ada apa dengan judulnya? Tidak, tidak. Saya sedang tidak mabuk pilpres, sungguh.

Buku itu seketika jatuh, memaksa saya untuk membungkuk dan meraihnya. Bau debu. Buku itu sedikit berdebu. Ah, sudah hampir setahun rupanya. Atau sudah setahun? Satu tahun ternyata cukup untuk menumpuk debu. Mungkin juga membuat jarak, mengubah keadaan. Lagipula apa yang kita harapkan? Toh kekal dan abadi hanyalah milik Tuhan.

Oke, cukup sudah tentang buku berdebu itu. Kita akan masuk ke pembahasan yang sebenarnya, film. Bukan, Anda salah. Saya tidak sedang membahas film berdebu. Ada apa antara Anda dengan debu? Semenarik itukah debu di mata Anda? *kemudian digapok batako

😀

D1-DjDunia Pertama

4OVxwVydSpU0IUXADKcFg7LzCybDunia Kedua

DUNIA PERTAMA

Kulari ke hutan kemudian menyanyiku

Kulari ke pantai kemudian teriakku

Sepi. . . sepi dan sendiri aku benci

Aku ingin bingar

Aku mau di pasar

Bosan aku dengan penat

Dan enyah saja kau pekat

Seperti berjelaga jika ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai

Biar mengaduh sampai gaduh

Ah. . . ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih

Kenapa tak goyangkan saja loncengnya biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan, belok ke pantai

***

Mahluk Mars itu berwatak dingin cenderung apatis, sedangkan mahluk Venus-nya berwatak ceria lagi bersahabat. Mereka berbeda, kecuali dalam hal lagu tak bernada, puisi.

D1-Ao
Mahluk Venus dan Mahluk Mars di Dunia Pertama

Suatu hari, mahluk Venus itu dikejutkan dengan kejadian yang tak semestinya. Ia tak lagi ditasbihkan sebagai ‘Mahluk Tersuperior’ di kalangan alam semesta. Siapa gerangan yang berani merebut gelar tersebut? “Mahluk Mars ?!!! Siapa ia?”, batinnya. Rasa ingin tahu seketika menyusup halus.

Selidik punya selidik, ternyata mahluk Mars itu sering berkelana di “Istana Buku”. Tanpa pikir panjang, ‘Ia yang gelarnya direbut’ itu pergi ke tempat tersebut. “Ah, itu dia. Sedang menyepi sembari memegang ‘entah benda apa itu’. Pusakakah?”

Mahluk Venus itu mendekat. Semakin dekat. Lalu menyapa. Menyapa dengan senyuman manis seperti yang biasa ia lakukan. Sial. Sapaan itu tak dibalas dengan sepadan oleh ‘Ia yang merebut gelarnya’ tersebut. “Mahluk tata surya macam apa dia”, umpatnya seraya mengepalkan tangan.

D1-Bj

asal3

***

“Mana benda itu? Di mana ia?”

Planet Mars dibuat bergetar olehnya. Benda yang tak pernah ia lepas itu mendadak hilang entah ke mana. Tertinggal di Andromeda-kah? Atau mungkin ditelan bulat-bulat oleh lubang hitam?

Ya, pusaka mahluk Mars itu tak lagi ada di tangannya.

asal4

***

“Ah, ini dia. Siapa gerangan yang meletakkannya di sini? Terimakasih Semesta!”

Runtuh sudah rasa gundah mahluk Mars itu setelah pusakanya kembali dengan tak kurang satu apapun. Bahkan ada tambahan di dalamnya. Sebuah pesan di secarik kertas.

Pusaka yang Kembali

Mahluk Mars,

Bila emosi mengalahkan logika, terbuktikan banyakan ruginya. Benerkan?

                                                                                      Mahluk Venus

***

Mereka bertemu. Bukan. Pertemuan itu bukan tidak disengaja. Mahluk Mars itu memang sengaja ingin menemui mahluk Venus yang telah mengembalikan pusakanya itu. Mengucapkan terimakasih. Dan percakapan ringan itu pun berlangsung.

MM : Venus!

MV : Manggil? Kenapa? Mau ngajak berantam lagi?

MM : Oh nggak. Saya mau ngucapin terimakasih sama kamu. Sempat kebingungan juga nyarinya. Buku langka soalnya.

MV : Lalu?

MM : Lalu. . . Kok senyum??

MV : Lalu apa?

MM : Yaudah, itu aja. Makasih ya.

. . .

MV : Hei! Kamu tu kalau lagi kebingungan tu lebih nyenengin ya. Kamu kebingungan aja terus.

MM : ‘Kamu’?

MV : Haa?

MM : Iya ‘kamu’. Biasanya kan ngomongnya ‘lo-gue’.

MV : Bahas terus. . .

asal6

***

Hukum alam sedang berlangsung. Dua buah benda bermassa akan saling tarik menarik satu sama lain dengan gaya yang sama besar. Yaa, hal tersebut berlaku juga untuk mereka yang dulunya mendendam, kemudian menghangat ketika sudah saling dekat.

asal7

***

“Hei, ke Bumi yuk”

“Bumi? Ada apa di sana?”

“Kata mereka yang pernah berkunjung ke sana sih, ada banyak hal menarik di tempat itu”

“Hmm, boleh. Lalu dengan apa kita ke sana?”

“Jalan kaki. . .”

. . .

Kemudian di Bumi. . .

asal9

asal8

***

“Ada apa ini?”, mahluk Venus itu terperanjat ketika melihat dunianya porak poranda bak dijilat oleh matahari.

“Ah, dari mana saja kamu. Harusnya kamu ada di sini. Harusnya kamu bersama kami. Harusnya semua ini tak perlu terjadi”, mahluk Venus lain berujar kepadanya.

Perasaan bersalah seketika menghujam jantungnya. Dalam. Sangat dalam.

***

MM: Venus! Kamu nggak apa-apa? Kenapa sih?

MV : Mars kayaknya kita nggak usah ketemu-ketemu lagi.

MM: Maksud kamu?

MV : Pokoknya berhenti ngedeketin saya lagi.

MM : Ngedeketin kamu? Kayaknya ada yang nggak jelas deh.

MV : Sejak gue ketemu lo, gue berubah jadi orang yang beda. Orang yang nggak bener.

MM : Gini ya Venus. Salah satu di antara kita, itu pasti lebih punya hati, atau otak. Tapi kayaknya, kamu nggak punya dua-duanya deh.

. . .

MM : Asal kamu tahu Venus. Kalau diperlakukan nggak fair kayak gini sih saya dah biasa. Tapi satu. Nggak usah ada maaf-maafan lagi. Saya setuju, kita nggak usah berhubungan lagi.

asal10

***

Seribu musim tak kan bisa

Menghibur hati yang penuh marah

Entah mengapa berpisah saat mulai menjalin

. . .

asal11

***

“Hei, ada panggilan untukmu”

“Siapa?”

“Semesta. . .”

Mahluk Mars itu bergegas memenuhi panggilan tersebut.

. . .

“Hei, panggilan apa tadi?”

“Aku direkomendasikan untuk beranjak ke Magellan. . .”

Mendadak ia merindukan Bumi. Atau? Hmm. . .

Hening

Bersambung di tulisan selanjutnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s